Powerful Public Speaker & Smart Communication


Menjadi seorang Powerful and Smart Public Speaker berarti menguasai seni mengubah rasa grogi menjadi energi pembakar semangat dan mentransformasi ide abstrak menjadi aksi nyata yang berdampak. Kuncinya bukan sekadar pada vokal yang lantang atau gaya panggung yang memukau, melainkan pada kecerdasan menyusun pesan menggunakan formula C.E.S.A (Clarity, Emotion, Structure, Authenticity) agar setiap kata memiliki makna dan mampu menyentuh hati audiens. Seorang pembicara yang cerdas tidak lagi terjebak dalam "perang batin" takut dihakimi, melainkan fokus membangun koneksi tulus dengan audiens, menjadikan panggung bukan tempat untuk pamer diri, tetapi sarana untuk menanam manfaat dan menginspirasi perubahan  Kuasai Panggung: Powerful Public Speaker & Smart Communication
Coach Olivia Presents

Powerful Public Speaker &
Smart Communication

Skill Kuasai Panggung, Pengaruhi Audiens, dan Raih Puncak Karier!

Hambatan Tersembunyi

Sebelum menguasai panggung, Anda harus memahami tantangannya. Riset menunjukkan mayoritas orang mengalami Glosofobia—ketakutan berbicara di depan umum.

"Perang yang sebenarnya bukan di panggung, tapi di kepala Anda. 75% orang membiarkan rasa takut membungkam potensi mereka."

Prevalensi Global Glosofobia

Kesenjangan Skill: Pemula vs. Master

Apa yang membedakan pemula yang gugup dengan pembicara yang berpengaruh? Bukan sekadar keberanian, tapi serangkaian skill yang terukur.

  • Si Pemula (Amateur) mengandalkan kata pengisi ("Eee", "Hmm"), menghindari kontak mata, dan bicara berputar-putar.
  • Sang Master menggunakan jeda strategis, membangun koneksi lewat tatapan mata, dan menggunakan struktur narasi yang jelas (PREP).

Poin Kunci:

Master tidak bicara *lebih banyak*; mereka bicara dengan dampak dan intensi yang lebih tinggi.

Analisis Kompetensi Inti Komunikasi

Formula Bicara Menggerakkan

Untuk mengubah audiens dari apatis menjadi bertindak, Anda butuh lebih dari sekadar kata-kata. Anda butuh Segitiga Emas Komunikasi.

❤️ Emotion

Sentuh Hati

Data membuat orang berpikir, tapi emosi membuat orang bertindak. Bangun koneksi.

💡 Clarity

Pesan Jernih

Hindari jargon rumit. Singkat & padat. Jika mereka tidak paham, mereka tidak akan setuju.

🏗️ Structure

Alur Kokoh

Bawa audiens dari Poin A ke Poin B dengan aman. Gunakan metode PREP.

Kecerdasan Emosional (EQ) dalam Komunikasi

Bagaimana beralih dari kondisi Reaktif menjadi pemimpin yang Responsif.

🔥

Pemicu

Kritik, Tekanan, Konflik

JEDA (PAUSE)

Berhenti. Tarik napas. Jangan bicara dulu.

🏷️

Namai Rasa

"Saya merasa defensif..."

💬

Ekspresikan

Gunakan kata "Saya". Fokus pada solusi.

Dampak pada Karier (ROI)

Public speaking adalah akselerator nomor 1 untuk pertumbuhan profesional. Mereka yang mampu mengartikulasikan nilai, memimpin rapat, dan menginspirasi tim akan naik jabatan jauh lebih cepat.

Tahukah Anda?

Warren Buffett mengatakan menguasai public speaking dapat meningkatkan nilai diri Anda hingga 50%.

Proyeksi Akumulasi Nilai Karier (5 Tahun)

Siap Menguasai Panggung?

Jangan biarkan rasa takut menahan Anda. Bergabunglah dengan pelatihan Certified Public Speaking (C.PS) bersama Coach Olivia dan ubah kecemasan menjadi otoritas.

atau

© 2024 Self Development Indonesia. Coach Olivia Ridheta Citrawijaya.

 hi silahkan dm instagram https:///www.instagram.com/olivwijayaa untuk lebih lanjutnya yaa 
terimakasih sudah membaca dan semoga bermanfaat

Share:

Cerita Menjadi Awardee Beasiswa Kementerian Komunikasi dan Digital RI Berprestasi 2025

Ketika Satu Pintu Tertutup, Tuhan Membukakan Gerbang Lain, Cerita di Balik Awardee Terbaik Komdigi 2025



"Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menyelamatkan jiwamu. Dia menutup satu pintu, bukan karena Dia tidak menyayangimu, tapi karena Dia tahu, pintu itu tidak mengarah pada tempat di mana kamu seharusnya bersinar."

Hari itu seharusnya menjadi hari yang berat.

Pagi harinya, notifikasi email masuk ke ponselku. Jantungku berdebar kencang saat membukanya. Itu adalah pengumuman dari sebuah seleksi yang sudah lama aku impikan dan persiapkan dengan matang. Mataku menyusuri baris demi baris kalimat baku itu, mencari kata "Selamat", namun yang kutemukan adalah kata-kata sopan yang intinya: "Mohon maaf, Anda belum lolos."

Rasanya? Jangan ditanya. Kecewa, pasti. Ada rasa ragu yang tiba-tiba menyelinap, "Apa aku kurang kompeten? Apa usahaku belum cukup?" Manusiawi sekali rasanya ketika kita merasa dunia runtuh sejenak saat penolakan itu datang.

Aku mencoba menata hati, menarik napas panjang, dan berkata pada diri sendiri, "Ya sudah, mungkin bukan rezekinya."

Namun, siapa sangka skenario Tuhan se-plot twist itu?

Di hari yang sama, hanya berselang beberapa jam setelah kabar penolakan itu, sebuah pesan lain masuk. Kali ini bukan penolakan. Kali ini adalah sebuah undangan resmi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Aku membacanya berulang-ulang, takut salah baca.

Undangan Menghadiri AI Talent Day & Graduation 2025 sebagai Penerima Penghargaan: Awardee Beasiswa Komdigi Berprestasi 2025. 

Detik itu juga, air mataku yang tadinya hampir jatuh karena sedih, berubah menjadi air mata haru. Di saat satu pintu tertutup rapat di depan wajahku, Tuhan ternyata sedang menggelar karpet merah di pintu yang lain. Pintu yang bahkan tidak pernah berani aku bayangkan akan terbuka selebar ini.

Perjalanan Menembus Batas (Fisik)

Drama belum selesai di situ. Menjelang keberangkatan ke Jakarta untuk menerima penghargaan, tubuhku justru memberi sinyal SOS.

Mungkin karena kelelahan mengerjakan tesis, mengurus si kecil, ya aku seorang single mom, dan tumpukan deadline, pertahananku jebol. Aku terserang "paket lengkap", masuk angin, batuk parah, dan pilek yang menyiksa. Kepala rasanya berat sekali, badan menggigil, tapi hati ini hangat oleh semangat.

Bayangkan, aku harus naik pesawat, menempuh perjalanan Surabaya-Jakarta, dengan kondisi hidung mampet dan tisu di tangan kiri, sementara tangan kanan menyeret koper berisi baju formal dan jas kebanggaan.

Di pesawat, aku cuma bisa berdoa, "Ya Allah, kuatkan sebentar saja. Izinkan aku berdiri tegak di panggung nanti. Jangan sampai aku batuk saat menerima piala."

Tapi ujian sesungguhnya bukan saat berjalan menyeret koper atau menahan pusing di pesawat. Ujian mental terberat justru ada di rundown acara.

Ternyata, aku bukan hanya datang sebagai penerima penghargaan. Di acara sebesar itu, di hadapan Pak Wamen dan para pakar digital, aku juga didapuk menjadi narasumber sesi Talkshow.

Bayangkan paniknya. Seorang Public Speaker yang "senjatanya" adalah suara, tiba-tiba harus tampil dengan kondisi tenggorokan gatal, hidung mampet, dan suara yang kalau boleh jujur lebih mirip suara robot kehabisan baterai daripada suara presenter profesional. Suara bindeng khas orang flu berat.

Di belakang panggung, aku terus-menerus merapalkan doa sambil meneguk air hangat. "Tuhan, tolong jangan biarkan aku batuk di tengah kalimat. Tolong biarkan suaraku keluar jernih, setidaknya selama durasi talkshow saja."

Ketakutan itu nyata. Takut terlihat tidak prima, takut nada bicaraku terdengar aneh, takut mengecewakan mereka yang sudah percaya.

Momen di The Luxus Grand Ballroom

Sesampainya di venue acara, The Luxus Grand Ballroom Kemayoran, segala rasa sakit itu seolah hilang sejenak tertutup oleh adrenalin.

Namun, begitu MC memanggil namaku dan lampu sorot mengarah ke wajahku, sebuah keajaiban kecil terjadi. Adrenalin mengambil alih. Rasa sakit di tenggorokan seolah "dibius" sementara. Aku bicara, menjawab pertanyaan, dan berbagi pandangan tentang AI dan PR dengan energi yang entah datang dari mana.

Mungkin suaraku memang masih terdengar agak bindeng, tapi semangatku hari itu jauh lebih nyaring daripada sakitku.

Melihat namaku, Olivia Ridheta Citrawijaya, dipanggil ke atas panggung di hadapan jajaran pimpinan Komdigi, rasanya surreal. Aku, seorang ASN Kementerian Keuangan yang "nyasar" kuliah Komunikasi, seorang ibu yang membagi waktu antara mengasuh dan jurnal ilmiah, berdiri di sana sebagai yang terbaik.

Penghargaan ini bukan sekadar piala. Ini adalah validasi atas malam-malam panjang riset tentang AI dan Public Relations. Ini adalah apresiasi untuk setiap halaman buku yang kutulis di sela kesibukan.

Hikmahnya?

Pulang dari Jakarta (masih dengan sisa-sisa flu), aku merenung.

Kalau saja pagi itu aku lolos di seleksi yang pertama, mungkin aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang meledak-ledak saat menerima undangan Komdigi. Mungkin rasanya akan biasa saja.

Tuhan membiarkan aku merasakan "jatuh" dulu di pagi hari, supaya aku bisa benar-benar bersyukur saat "diangkat" di sore harinya.

Untuk teman-teman yang sedang merasa gagal, ditolak, atau merasa jalannya buntu: Tunggu sebentar. Ceritamu belum selesai. Bisa jadi, penolakan itu adalah cara Tuhan menyuruhmu berbelok ke arah yang jauh lebih indah.

Terima kasih, 2025. Kamu penuh kejutan.

Ditulis dengan ditemani obat flu dan hati yang penuh syukur. - Olivwijayaa

terimakasih untuk seluruh media yang telah meliput

1. https://www.suaratime.com/2025/12/srikandi-kemenkeu-raih-gelar-awardee.html

2. https://wartatimes.com/harumkan-nama-unair-mahasiswa-fisip-sabet-gelar-awardee-berprestasi-nasional-dari-kementerian-komdigi/

3. https://radarbaru.com/mahasiswa-pascasarjana-unair-olivia-ridheta-citrawijaya-dinobatkan-sebagai-awardee-beasiswa-komdigi-berprestasi-2025/

4. https://lensidn.com/ai-talent-day-2025-soroti-pentingnya-kepemimpinan-perempuan-dalam-transformasi-digital-nasional/

5. https://www.suaratime.com/2025/12/peneliti-komunikasi-unair-big-data-ubah.html

This is a moment to remember, so aku mau menyimpan memori ini dengan foto-foto ini, hihi


Ini aku Olivia Ridheta Citrawijaya penerima Awardee Beasiswa Kementerian Komunikasi dan Digital RI Berprestasi 2025 mewakili angkatan tahun 2024 dan mas Hamman Aryo Bimo terpilih dari angkatan 2023. Mas bimo dari instansi kepolisian, ITB jurusan IT .


senyum sumringah, s2 lintas jurusan masyaAllah akhirnya aku bisa lewati dengan sangat baik.

Cantiknyaaa masyaAllah makasih MUA ku zahra makeup di kemayoran.

bersama mba nesia ASN Komdigi makasih mba nesia barakallah






Daebak bangettt ! Jadi Narasumber coy ! masyaAllah

jalan jalan sama aura kasih
Allahku terimakasihh
Share:

Membangun Kepercayaan diri Jadi Penulis Pemula

 


Hi hai assalamualaikum semua, aku baru aja dapet ilmu nih dari jemari muslimah, tentang bagaimana sih membangun kepercayaan diri jadi penulis pemula...

“Kalau kamu sendiri tidak percaya sama tulisanmu,
bagaimana orang lain mau percaya dan beli bukumu?”


Menjadi penulis pemula itu sering kali seperti berdiri di tepi kolam renang yang dalam: ingin nyebur, tapi takut tenggelam.


Padahal kamu sudah punya ide yang bagus, semangat yang membara, bahkan mungkin sudah penelitian sana-sini. Tapi entah kenapa… tangan gemetar tiap mau nulis, dan makin panik saat diminta promosiin buku sendiri.

 Fakta menarik: banyak penulis yang bukunya bagus, tapi tenggelam di pasaran.


Kenapa?
 Karena mereka tidak pede untuk mengomunikasikan karyanya.


Mereka terlalu sibuk menyembunyikan bukunya, berharap orang lain yang mempromosikan. Padahal, percaya diri adalah landasan utama yang membuat buku bisa melompat jauh.

Tips Membangun Percaya Diri dalam Proses Menulis Buku

1. Ingat: Kamu Bukan Satu-satunya Penulis Pemula Penulis-penulis besar pun dulunya pemula. JK Rowling dulu menulis naskah "Harry Potter" di kafe, karena tidak mampu membayar sewa rumah. Andrea Hirata pernah menolak banyak penerbit. Jadi, jika kamu baru mulai, kamu justru berada di jalur yang normal.

2. Tulis Dulu, Koreksi Belakangan Banyak penulis gagal menyelesaikan buku karena terlalu banyak mengedit saat menulis. Percayalah, tulisan pertamamu memang akan berantakan dan itu wajar banget. Tugasmu di awal hanya satu: selesaikan dulu. Koreksi, polesan, dan keindahan itu kerjaan babak kedua.

3.
Punya Mentor atau Komunitas Penulis Kalau kamu sering ngerasa nggak percaya diri karena takut tulisanmu jelek, coba deh punya mentor atau teman satu getaran di komunitas menulis. Mereka akan membantu kamu melihat kelebihan tulisanmu yang mungkin tidak kamu sadari sendiri.

4. Baca Ulang Tulisanmu Sebagai Pembaca Tinggalkan tulisanmu sehari, lalu baca ulang sebagai pembaca, bukan penulis. Rasakan emosinya, pesannya, dan keunikannya. Percaya atau tidak, kamu bakal lebih objektif dan mulai bangga dengan tulisanmu sendiri.

Menjadi Penulis yang Pede Saat Promosi

1. Ubah Pola Pikir:
Promosi Itu Bukan Jualan, Tapi Berbagi Manfaat Hentikan mikir promosi itu norak. Coba pikir begini: kalau bukumu bisa membantu seseorang sembuh dari patah hati, move on dari trauma, atau semangat menata hidup... kenapa harus disembunyiin? Promosi itu ibadah juga, loh, asal niatnya benar.

2. Latih Public Speaking dan Storytelling di Instagram atau TikTok
Mulailah dari hal kecil. Coba cerita di Instagram Story tentang proses kamu menulis buku. Bikin konten “behind the scene,” kutipan buku, atau QnA. Semakin sering kamu muncul, semakin banyak penonton yang percaya dan kamu pun semakin pede.

3. Membuat Personal Branding sebagai Penulis
Gunakan foto profil yang konsisten, bio Instagram yang mencerminkan  kamu sebagai penulis, dan posting konten-konten yang menggambarkan gaya tulisanmu. Orang akan lebih mudah mengenal dan percaya, sebelum akhirnya membeli bukumu.

4.Yuk  Posting Testimoni dan Kemajuannya
Misal, kamu upload chat orang yang suka tulisannya, atau foto draft bukumu yang semakin tebal. Bukan buat pamer, tapi buat bukti sosial. Itu membuat kamu terlihat nyata dan bukumu dinanti-nanti.


Semoga tips simpel ini berguna ya buat kamu, semangat untuk semua penulis pemula ^^.

Share:

Cerita di Balik Layar Webinar Nasional "Speak with Impact": Dari Grogi Jadi Percaya Diri!

 

Cerita di Balik Layar Webinar "Speak with Impact": Dari Grogi Jadi Percaya Diri!

KELAS PUBLIC SPEAKING ONLINE
MERUBAH RASA GUGUP JADI PERCAYA DIRI

Pernahkah Anda merasa lelah mengikuti webinar yang ilmunya terasa cuma "numpang lewat" di kepala?Saya Olivia, dan saya percaya bahwa webinar seharusnya lebih dari sekedar mentransfer informasi; ia harus menjadi pengalaman yang transformatif dan membuat ketagihan.


Baru-baru ini, saya berkesempatan menjadi pemateri dalam Webinar Nasional Pengembangan Diri & Public Speaking. Sesi yang saya bawakan berjudul "Speak with Impact: Dari Gugup, Jadi Memukau!" dan respon dari para peserta benar-benar luar biasa.

Namun, ada sebuah cerita di balik layar yang mungkin tidak banyak orang tahu.

"Beberapa waktu sebelum acara dimulai, saya tiba-tiba demam . Tenggorokan terasa sangat sakit dan gatal , rasanya ingin batuk terus menerus :("

Di saat-saat genting itu, rasa gugup dan khawatir bercampur aduk. Tapi saya ingat janji saya pada diri sendiri dan para peserta. Dengan mengumpulkan doa permohonan pertolongan dan minum beberapa teguk tolak angin, saya berusaha mengumpulkan seluruh energi yang tersisa.

Saat acara dimulai, saya dengan jujur menyampaikan kepada audiens bahwa kondisi saya sedang tidak prima. Namun, sambutan hangat dan dukungan yang saya rasakan dari mereka menjadi kekuatan terbesar. Ini mengajarkan saya bahwa koneksi emosional tidak hanya dibangun saat kita berada di atas panggung, tetapi juga saat kita menunjukkan kerentanan dan kejujuran.



Tanggapan dari para peserta benar-benar luar biasa. Saya ingin berbagi sedikit cerita dan kesan-kesan yang membuat saya semakin termotivasi untuk terus menyebarkan manfaat public speaking.

Menyajikan Materi yang 'Relate' dan Bikin 'Nagih'




Sebagai seorang MC dan  pembicara publik , saya tahu betul tantangan terbesar para penonton: rasa tegang, tidak percaya diri, dan takut salah bicara. Itulah sebabnya saya berusaha keras untuk memastikan setiap materi yang saya sampaikan dengan sangat baik  berhubungan dengan kondisi nyata mereka saat ini. Salah satu peserta bahkan mengatakan bahwa materi yang saya bawakan sangat termotivasi karena berhubungan dengan keadaan mereka saat ini dan mudah dipahami. 



Ada juga yang merasa presentasi saya sangat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum.

Pembawaan yang Enerjik, Interaktif, dan Memukau



Saya selalu percaya bahwa cara kami menyampaikan pesan yang sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Seorang peserta mencatat bahwa saya menyajikan materi dengan sangat energik dan interaktif, sehingga membuatnya lebih mudah memahami teknik-teknik dasar public speaking. Pembawaan yang seru membuat peserta lebih termotivasi untuk tampil percaya diri dan memukau. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa pendekatan ini membuat pendengar ikut aktif berperan dalam isi materi. Hal ini juga dibuktikan dengan testimoni yang menyebutkan bahwa pembawaan yang semangat menciptakan hal positif dalam materi yang disampaikan.

Menghilangkan Rasa Gugup dan Membangun Kepercayaan Diri



Tujuan utama saya adalah membantu para peserta mengubah rasa gugup menjadi kekuatan. Peserta webinar merasa bahwa setelah pemaparan dari saya, mereka menjadi lebih percaya diri saat berbicara di depan umum. Tips penerapan yang saya berikan dinilai cocok untuk orang yang sering gugup dan tidak percaya diri, sehingga mereka merasa sangat percaya diri dengan cara yang saya berikan.

Salah satu testimoni yang paling berkesan adalah ketika seorang peserta merasa gelisahnya hilang berkat masukan dari orang tua saya tentang kesetaraan manusia, yang merupakan bagian dari pesan motivasi dalam sesi saya. 



Hal ini membuktikan bahwa public speaking bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang kekuatan cerita dan pola pikir yang positif.

Lebih dari Sekadar Teknik, Ini adalah Keterampilan



Pesan yang paling ingin saya sampaikan adalah bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukanlah soal bakat, melainkan keterampilan yang bisa terus diasah. Seorang peserta bahkan menyatakan bahwa pemaparan materi saya membuka pemikiran tentang pentingnya public speaking dalam kehidupan, pekerjaan, dan perkuliahan. 

Pembicara inspiratif dan Memotivasi tentang public Speaking


Saya senang bisa membagikan tips praktis agar bisa berbicara dengan percaya diri, bahkan jika awalnya gugup, dan menekankan bahwa kunci tampil memukau bukan hanya teknik bicara, tetapi juga latihan, pola berpikir positif, dan keberanian untuk mencoba.

Secara keseluruhan, saya sangat berterima kasih atas semua tanggapan positif ini. Ada yang mengatakan materi saya "kerennn," "sangat baik dan mudah dipahami," bahkan ada yang saking terkesannya sampai bingung mau komentar apa lagi.



Terima kasih kepada semua peserta yang sudah hadir dan memberikan respon luar biasa. Rasanya sangat menyenangkan bisa berbagi dan melihat manfaatnya dirasakan langsung oleh banyak orang.

Anda ingin merasakan pengalaman webinar yang bikin nagih seperti ini juga?





Kelas Pelatihan Public Speaking dapat gelar Certified Public Speaker





  
Yuk Gabung kelasnya follow Instagram saya di Instagram  @olivwijayaa untuk informasi lebih lanjut!

Share: